Friday, May 16, 2008

dia duduk termenung dan befikir
mempertanyakan arti kebingungan itu
knp dia harus merasa sedih
ketika mendengar kabar bahagia itu?

apakah itu pertanda buruk?
tapi tunggu. dia tidak percaya akan itu.
pertanda itu hanya teruntuk orang aneh, katanya.
jadi apa?
tanyanya lagi. kepada dirinya.
bukan kepada yang lain.
bukan kepada kepalanya yang bisa memberikan jawaban yang logis
bukan juga kepada nalarnya yang mampu mengalahkannya dalam bersilat lidah.

tapi kepada suara hatinya.
karena dia percaya hanya ia lah yang mampu memberikan jawaban yang jujur.
jawaban yg jujur yg tidak perlu logika, tidak perlu nalar.
tpi perasaan nya yang sbnernya.

dan tunggulah. jawaban itu sedang digalinya. menunggu saatnya untuk ditemukan. menunggu saatnya untuk dilahirkan. bersabarlah. ia akan datang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home